
Minggu, 13 Desember 2020

Sabtu, 12 Desember 2020

Perbedaan Yuan Digital China dan Bitcoin
China baru-baru ini resmi menerbitkan Yuan digital sebagai alat pembayaran yang sah yang sepintas mirip dengan Bitcoin.
Sebab, keduanya sama-sama menggunakan sistem blockchain. Namun, ada perbedaan jelas antara Yuan digital dengan Bitcoin, meski keduanya sama-sama tidak memiliki bentuk fisik.
Milik China
CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua uang digital ini. Menurutnya, Yuan digital adalah mata uang milik negara China. Sementara Bitcoin tidak memiliki identitas negara.
"Yuan digital adalah mata uang yang diterbitkan negara China dan dipakai oleh rakyatnya untuk pembayaran di sana. Yuan digital sama dengan Yuan biasa.Sedangkan Bitcoin merupakancryptocurrencyatau mata uang yang tidak mengenal wilayah. Bitcoin tidak memiliki identitas negara," kata Oscar, Jumat (11/12).
Ia juga menjelaskan, Bitcoin diciptakan untuk menerobos batas wilayah, dan tidak dimiliki negara tertentu ataupun perseorangan.
"Bitcoin diciptakan untuk menerobos batas wilayah, melengkapi kekurangan mata uang negara konvensional selama ini," tuturnya.
Masih Perlu Dikonversi
Keunggulan Bitcoin adalah tidak perlu dikonversi ke mata uang tertentu untuk transaksi lintas batas negara. Sementara Yuan digital masih perlu dikonversi ke dalam mata uang negara yang akan akan melakukan transaksi.
Harga Bitcoin di seluruh dunia juga hampir sama dan pergerakan naik turunnya harga berlaku internasional.
"Salah satu fungsi Bitcoin adalah untuk transaksi lintas negara. Jadi transaksi yang melibatkan berbagai negara di dunia lebih mudah, sedangkan pengiriman Yuan digital ke negara lain tetap harus dikonversi ke Dollar atau ke negara mana uang tersebut dikirimkan," jelas Oscar.
Bukan Cryptocurrency
Oscar menegaskan, Yuan digital bukan cryptocurrency karena dikeluarkan oleh Bank Sentral China. Mata uang digital tersebut juga tidak termasuk sistem blockchain karena berlaku terpusat di China.
Sementara Bitcoin, tidak memiliki otoritas kepemilikan, dan tidak terpusat. Penggunaannya bisa berlaku di seluruh negara.
"Dengan sifat dasar ini sudah bisa dilihat perbedaannya. Sehingga Yuan digital dan Bitcoin memiliki fundamental dan utilitas yang berbeda," terangnya.
Bukan Alat Investasi
Selain itu, Oscar juga menjelaskan Yuan digital tidak bisa digunakan sebagai alat investasi seperti Bitcoin. Yuan digital hanya alat pembayaran biasa yang digunakan dalam satu negara, hanya saja berbentuk digital.
"Bitcoin lebih difungsikan orang untuk bertransaksi ke luar negeri, selain itu, juga untuk komoditas dan investasi. Sedangkan Yuan Digital ya alat pembayaran biasa, yang mana memang mayoritas bangsanya menggunakan mata uang tersebut," tuturnya.
Lebih lanjut, menurutnya kehadiran mata uang digital ini tidak akan mempengaruhi pasar Bitcoin di China. Kehadirannya justru semakin mendukung kemajuan transaksi secara daring di negeri Tirai Bambu tersebut.
"Kemungkinan, hadirnya Yuan digital tidak mempengaruhi terhadap pasar Bitcoin di China justru malah mendukung karena transaksi online jadi makin mudah, hal ini tidak berpengaruh secara langsung terhadap harga Bitcoin," pungkasnya.
Untuk diketahui, China telah melakukan persiapan uji coba Yuan digital selama satu tahun. Pengetesan awal mata uang digital nasional China ini sudah dilakukan sejak awal tahun ini.
Jika, uji coba berhasil, maka China akan jadi ekonomi terkuat di dunia yang menawarkan mata uang digital nasional. Yuan digital ini akan mengalahkan Euro versi digital milik Bank Sentral Eropa.
Dengan kehadiran Yuan digital, pemerintah China dapat mengetahui bagaimana, kapan, dan di mana orang-orang menghabiskan uangnya. Sebabnya, seluruh kegiatan transaksi menggunakan Yuan digital akan dicatat dalam buku digital.
Kamis, 10 Desember 2020

BATAN Ungkap Kendala RI Tiru Matahari Buatan China
Rabu, 09 Desember 2020

Tak Hanya HP, Xiaomi juga Rilis Jam Tangan Pintar dan TV
Xiaomi meluncurkan dua jagoan baru, yakni Mi 10T dan Mi 10T Pro. Keduanya menawarkan pengalaman penggunaan premium namun tetap memiliki harga yang cukup terjangkau.
Selain kedua smartphone tersebut, Xiaomi juga meluncurkan tiga perangkat IoT baru untuk para penggemar teknologi. Kali ini, mereka memperkenalkan Mi Watch, Mi Watch Lite, dan 3 Mi TV baru dalam acara daring bertajuk "Technology for a Better Life" yang diadakan Selasa (8/10) malam.
Mi Watch dan Mi Watch Lite
Untuk Mi Watch dan Mi Watch Lite, Xiaomi menyasar pengguna yang ingin tetap terhubung dengan perangkat mereka, sambil memantau kesehatan serta tetap dapat tampil modis.
Kedua perangkat ini dapat memantau kondisi badan, mengukur aktivitas olahraga dari penggunanya, dan menyodorkan informasi penting dari fisik pengguna seperti denyut jantung, siklus tidur, dan tingkat stres.
Bagi Anda yang senang berenang atau berkegiatan di luar ruangan, kedua smartwatch ini juga tahan air hingga kedalaman 50 meter. Mi Watch memiliki 117 latihan olahraga yang bisa dimonitor dan disimpan datanya, sementara Mi Watch Lite bisa mengukur 11 jenis olahraga
Mi Watch dapat bertahan hingga 16 hari untuk penggunaan normal, sedangkan Mi Watch Lite dapat bertahan hingga 9 hari. Dan untuk pengisian daya, pengguna hanya perlu menunggu selama 2 jam hingga perangkat ini terisi penuh.
Layarnya mampu menampilkan warna yang mencolok dan tetap nyaman dilihat meski siang hari berkat panel AMOLED. Pengguna juga tak perlu khawatir tergores karena telah dilindungi oleh teknologi Corning Gorilla Glass 3.
Mi TV 4
Sedangkan untuk TV terbaru, Xiaomi memperkenalkan tiga Mi TV 4 yang memiliki desain layar bezel-less. Kali ini, pilihan ukuran layar yang dihadirkan adalah 32 inci, 43 inci, dan 55 inci.
Untuk Mi TV 4 Bezel-less 55 inci akan hadir dengan layar beresolusi 4K dan telah mendukung HDR10+. Mereka menggunakan panel berteknologi Quantum Dot LED untuk menampilkan warna yang lebih akurat, menonjol, dan cerah berkat sertifikasi Dolby Vision.
Ada juga 6 unit speaker dengan output 15W yang dilengkapi fitur Dolby Audio. Dan ada juga fitur Mi Quick Wake yang bisa menghidupkan TV hingga siap ditonton dalam waktu 5-8 detik saja, lebih cepat dari TV biasa yang membutuhkan waktu 30 detik.
Soal performa, TV ini akan menggunakan prosesor quad-core MTK 9611. Selain dapat mengakomodir gambar dengan baik, prosesor ini juga dapat menjalankan game dan beberapa aplikasi lainnya.
Mi TV 4 juga memiliki fitur-fitur unggulan seperti PatchWall untuk mendapatkan rekomendasi konten-konten terbaik sewaktu menggunakan TV. Pengguna masih akan dapat menggunakan remote intuitif yang terhubung melalui Bluetooth.
Harga Mi TV 4, Mi Watch dan Mi Watch Lite
Untuk harga, Mi TV 4 Bezel-less 55 inci akan dihargai Rp7,99 juta, tetapi untuk harga perkenalan akan dijual seharga Rp7,599 juta. Periode promo ini akan dilakukan pada 22 Desember.
Dan untuk Mi TV 43 inci serta Mi TV 33 inci akan dijual seharga Rp3,599 juta dan Rp2,499 juta dengan harga promo Rp2,399 juta. Kedua perangkat ini akan mulai dijual pada 15 Desember mendatang.
Mi Watch dan Mi Watch Lite sendiri akan dihargai Rp1,599 juta (harga promo Rp1,499 juta) dan Rp899 ribu (harga promo Rp799 ribu). Mi Watch Lite akan dijual pada 15 Desember dan Mi Watch akan dijual pada 22 Desember.
Selasa, 08 Desember 2020

Perluas Pasar, Importir Tesla Gandeng Renault Indonesia
Senin, 07 Desember 2020

Matahari Buatan China Berenergi Nuklir Berhasil Menyala
Minggu, 06 Desember 2020

Alasan Ponsel Harus Dimatikan saat Pesawat Take off
Sangat penting untuk mematikan ponsel atau perangkat lain saat bepergian dengan pesawat untuk menghindari gelombang radio yang berisiko bagi teknologi avionik pesawat.
Itulah salah satu alasan para pelancong diminta untuk mematikan perangkat elektronik sebelum pesawat lepas landas (take off).
Ada beberapa alasan mengapa begitu penting menonaktifkan perangkat listrik saat bepergian dengan pesawat.
Dilansir Sky Scanner, disadari atau tidak, perangkat elektronik memancarkan gelombang radio yang dapat mempengaruhi suasana di sekitar dalam pesawat. Artinya, smartphone Anda akan mengganggu komponen elektronik yang sensitif di kokpit pesawat.
Avionik sebuah pesawat membutuhkan informasi yang paling akurat untuk menavigasi dan menjaga agar semua bagian pesawat bekerja secara harmonis.
Ketika sinyal terganggu, komponen avionik mengubah pembacaan dan memicu sistem melakukan penyesuaian yang tidak perlu.
Meskipun belum ada studi dan bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa sejumlah besar gelombang radio yang tidak dapat diprediksi menimbulkan risiko kerusakan peralatan, namun secara teori hal itu sangat mungkin terjadi.
Faktanya, terdapat surplus bukti anekdotal yang menunjukkan bahwa gelombang radio dapat menyebabkan masalah keselamatan selama penerbangan.
Prosedur keamanan terbaik untuk diikuti
Saat kita berada di dalam pesawat, yang terbaik bukan hanya mematikan semua perangkat elektronik tetapi juga memastikan bahwa ponsel dalam mode pesawat, seperti dikutip Travel and Leisure.
Dalam mode ini, WiFi dinonaktifkan dan sinyal seluler akan dibolokir selama penerbangan berlangsung. Salah satu manfaat mengaktifkan mode pesawat dapat membantu kita menghemat masa pakai baterai yang sangat dibutuhkan ketika perjalanan berlangsung lama.
Meskipun harus lama menunggu, mematikan perangkat elektronik dan mengaktifkan mode ini akan mencegah sinyal GPS dan teknologi nirkabel yang dapat menyebabkan masalah kompleks pada kokpit.
