Jumat, 22 Januari 2021

Cara Kirim SMS Lewat Aplikasi Signal Pengganti WhatsApp

Aplikasi perpesanan Signal kian populer pasca kebijakan privasi baru WhatsApp. Banyak pengguna WhatsApp beralih ke Signal agar data pribadinya tidak disalahgunakan.

Seperti pesaingnya, Signal digunakan untuk olah pesan cepat kepada orang lain yang menggunakan aplikasi serupa. Namun, aplikasi Signal pada Android memiliki fitur tambahan, yakni dapat disetel sebagai aplikasi perpesanan SMS.

Melansir How To Geek, pengguna Android tidak hanya dapat berkomunikasi dengan pengguna Signal, tetapi juga dapat mengirim dan menerima pesan teks dengan nomor telepon. Semua percakapan itu tampil di satu tempat.

Cara Kirim SMS

1. Buka aplikasi Signal di perangkat Android. Selanjutnya, ketuk ikon menu tiga titik di sudut kanan atas aplikasi.

2. Pilih 'Setelan' dari menu.

3. Di bagian atas menu 'Setelan', tap 'SMS dan MMS'.

4. Selanjutnya, pilih 'SMS Dinonaktifkan' untuk melanjutkan dengan menjadikannya default.

5. Jendela pop-up akan meminta untuk memilih aplikasi SMS default. Pilih 'Signal' dan ketuk 'Set as Default'.

Setelah seluruh langkah itu, pengguna dapat mulai mengirim pesan SMS lewat Signal. Daftar kontak akan menampilkan orang-orang di Signal, ditunjukkan dengan warna biru. Sedangkan abu-abu adalah kontak SMS.

Pengguna harus mengetuk dan menahan tobol kirim pada Signal untuk mengirim SMS. Pengguna yang hendak mengirim SMS juga harus memilih pilihan 'SMS Tidak Aman' agar SMS dapat dikirim.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, pesan SMS tidak dienkripsi seperti pesan Signal. Piliha itu juga akan membuat tobol kirim berubah dari biru menjadi abu-abu.

Melansir laman resmi Signal, fitur SMS di Signal hanya tersedia di Android. Pengguna tidak dapat mengirim atau menerima SMS / MMS yang tidak aman dengan Signal di iPhone, iPod Touch, atau iPad.

"Semua komunikasi melalui Signal iOS bersifat pribadi. Apple tidak mengizinkan aplikasi lain untuk menggantikan aplikasi SMS / perpesanan default," kata SIgnal.

Fitur itu juga tidak tersedia di desktop. Signal beralasan ingin mendorong pengguna untuk menjauh dari protokol lama yang tidak aman.

Kamis, 21 Januari 2021

Ahli Berhasil Ubah Plastik Jadi Air dan Gas

Peneliti berhasil melakukan percobaan untuk mengubah limbah plastik mikro menjadi air dan gas karbondioksida tanpa meninggalkan residu beracun.
Plastik mikro (microplastic) menjadi satu masalah pencemaran lingkungan yang hingga kini dinilai sulit untuk diatasi.

Dalam jurnal, pare peneliti menyebut penelitian ini dibuat lantaran studi tentang plastik mikro sangat sedikit. Padahal masalah ini jadi isu yang sangat besar di dunia modern yang banyak menggunakan plastik dalam hidup sehari-hari.

Masalahnya, ukuran plastik ini sangat kecil dan sulit diperangkap ketika ia tersebar di air. Sehingga, para peneliti mengembangkan cara baru untuk mengurangi jumlah mikroplastik jika ditemukan dalam konsentrasi tinggi di air.

Sebagian besar plastik mikro ini menjadi polusi air akibat serat-serat kecil yang lepas dari kain sintesis saat dicuci. Serat-serat plastik mikro ini terlepas ke sungai dan laut terutama akibat limbah rumah tangga atau fasilitas binatu (laundry) komersial.

Dikutip dari Newatlas, para ilmuwan Institut National De La Recherche Scientifique (INRS) Quebec yang dipimpin Patrick Drogui lantas berinisiatif untuk mengurangi limbah plastik mikro ini langsung di fasilitas binatu. Dengan pencegahan langsung disumber penyebaran, diharapkan bisa segera mencegah plastik mikro ini tersebar ke sumber air lain.

Penelitian mereka mencoba memecah serat plastik mikro menjadi karbon dioksida dan molekul air yang tidak beracun. Pemecahan ini dilakukan lewat proses yang disebut sebagai oksidasi elektrolitik untuk menghasilkan radikal hidroksil di dalam air limbah.

Nantinya zat radikal tersebut akan memecah serat plastik menjadi karbon dioksida tidak beracun dan molekul air.

Dalam uji laboratorium yang dilakukan dengan memanfaatkan berbagai bahan elektroda, sejauh ini para peneliti mampu mendegradasi hingga 89 persen partikel polistiren yang diolah dari air limbah simulasi.

Melansir Science Direct, proses yang mereka lakukan menunjukkan cukup menjanjikan untuk mendegradasi partikel plastik dalam air tanpa menghasilkan limbah atau produk sampingan. 

Kini, mereka berencana menguji teknologi itu ke air limbah binatu sebenarnya. Sehingga, percobaan ini kemungkinan akan menghadapi beberapa tantangan baru.

"Air (limbah) asli ini mengandung bahan material lain yang dapat mempengaruhi proses degradasi, seperti karbonat dan fosfat. (Kedua bahan ini) dapat mengurangi kinerja proses oksidasi," kata Drogui, seperti dikutip New Atlas.

Jika eksperimen tersebut terbukti berhasil, maka peneliti bakal bisa menentukan berapa biaya instalasi teknologi ini dan bagaimana memperbesar kapasitas produksi agar bisa digunakan untuk kepentingan komersial.

Selasa, 19 Januari 2021

Daihatsu Ungkap Alasan Penjualan Xenia Anjlok


Penjualan Daihatsu Xenia selama 2020 tertekan pandemi Covid-19. Perusahaan merekam penjualan low MPV tersebut selama 12 bulan cuma sekitar 9 ribuan unit.
Perolehan itu membuat Xenia hanya menempati posisi enam di antara mobil terlaris Daihatsu di Indonesia. Daihatsu juga tak masuk sebagai 10 besar merek mobil terlaris dalam negeri.

Marketing and CR Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Hendrayadi Lastiyoso mengatakan penjualan Xenia tak sebagus tahun-tahun sebelumnya dilatarbelakangi surutnya permintaan dari konsumen.

"Dari demand itu memang kalau dilihat 2020 itu menurun," kata Hendrayadi melalui acara virtual.

Menurutnya, penurunan penjualan Xenia tahun lalu imbas masyarakat tunda beli mobil baru di tengah Covid-19

Jika pun ada yang melakukan pembelian, Ia menyebut konsumen membeli mobil dengan harga yang lebih terjangkau seperti model Ayla atau Sigra.

"Dibandingkan Sigra dan Ayla permintaan di cabang kami itu masih lebih bagus dari Xenia. Itu fakta hidupnya seperti itu," ujarnya.

Ayla merupakan mobil lima penumpang, sedangkan Sigra bermuatan tujuh penumpang. Kedua mobil ini masuk ke dalam kategori kendaraan ramah lingkungan harga terjangkau (Low Cost Green Car/LCGC).

Selama 2020, penjualan ke konsumen Sigra berada pada level 26 ribu, sementara Ayla 13 ribu.

"Jadi ya mungkin kebutuhan masih MPV ada tapi mengingat income di 2020 ada penurunan jadi permintaan daya beli menurun. Akhirnya melakukan pembelian yang lebig terjangkau," ucap Hendrayadi.

Selama 2020 Daihatsu mengemas penjualan retail 100.026 unit dari seluruh model dengan pangsa pasar 17,3 persen. Daihatsu menargetkan penjualan tahun ini mencapai pangsa pasar yang sama dengan 2020 atau sekitar 17 persen.

"Target tahun ini ya minimal 17 persen, dan tetap nomor dua (sebagai merek terlaris). Kami tidak jumawa karena tahun ini pasti akan semakin ketat," kata Hendrayadi.

Senin, 18 Januari 2021

Alasan Ahli Beri Peringatan Gempa Lebih Besar di Mamuju

 

Pakar Geologi Kebencanaan dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Eng Ir Adi Maulana, ST, M.Phil mengatakan tren gempa susulan di sekitar wilayah Mamuju-Mejene Sulawesi Barat semakin lama semakin kecil.

Sehingga, ia berharap masyarakat tak gelisah, namun tetap waspada akan potensi gempa yang lebih besar. Sebab, hal ini berkaca pada sejarah gempa di daerah itu, pernah terjadi gempa besar pada 1967 dan 1969 dengan magnitudo 6,9.

"Gempa yang lalu yang 6,2, sehingga diperkirakan masih ada energi gempa yang belum rilis," katanya.

Hal itu dikemukakan Adi menanggapi kekhawatiran dan isu yang menyebut ada potensi gempa di Sulbaritu akan lebih besar dan berpotensi tsunami.

Gempa susulan atau aftershock adalah gempa yang terjadi setelah gempa utama (gempa yang paling besar).

Sebelumnya, BMKG sempat menyatakan harapan agar gempa yang mengguncang kawasan sekitar Mamuju dan Majene tak makin membesar.

Pasalnya, gempa keduayang terjadi pada Jumat dini hari bermagnitudo6,3, lebih kuat dari gempa sebelumnya. Pada Kamis (14/1) gempa serupa terjadi dengan magnitudo 5,9.

Dalam wawancara dengan CNNIndonesia TV, Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan kekhawatiran itu berdasarkan sejarah di kawasan Sulbar yang sempat mengalami gempa lebih besar dari magnitudo 6,2.

Sehingga, dikhawatirkan ada energi yang masih terakumulasi dan belum dilepaskan. Hal ini berkaca dari kasus gempa Lombok yang diguncang gempa besar lima kali, setelah rententan gempa susulan.

Karena itu, Adi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tetapi jangan panik. Dia menyarankan masyarakat untuk menghindari gedung-gedung atau bangunan yang sudah runtuh, agar tidak tertimpa pada saat terjadi gempa susulan.

"Selain itu, juga harus menghindari daerah pantai, karena kalau gempa susulan terjadi berfokus di laut, maka bisa terjadi tsunami," katanya, sembari mengingatkan bahwakalau gempa susulan terjadi, maka akan menyebabkan runtuhan di Selat Makassar, seperti yg terjadi di Palu.

Selain itu, lanjut Adi, perlu juga dihindari lereng-lereng yang terjal, karena biasanya gempa susulan menyebabkan terjadinya tanah longsor.

Adanya banyak kemungkinan gempa susulan, menurut dia, itu sangat tergantung dari besar magnitudo gempa dan juga kondisi geologi sekitarnya. Jadi, semakin besar magnitudonya maka aftershock biasanya akan banyak, semakin kompleks kondisi geologinya (jenis batuan dasar, struktur geologi) juga sangat berpengaruh.

"Yang jelas, masyarakat Sulbar, utamanya Majene dan Mamuju harus tetap waspada, tetapi tidak perlu panik dan meninggalkan Kota Mamuju," ujarnya.

Dia berharap, kasus di Sulbaritu energi gempanya sudah terlepas semua, dan kalaupun ada gempa susulan itu tentu lebih kecil.

Untuk saat ini, lanjut dia, yang terpenting adalah keselamatan jiwa dulu dengan tetap waspada, sehingga bisa mengurangi risiko.

Minggu, 17 Januari 2021

NASA Bersiap Uji Roket Kelas Berat Buat Angkut Misi ke Bulan

 


Uji peluncuran roket diperkirakan akan dimulai pada pukul 17:00 waktu setempat ( 06:00 WIB) di Pusat Peluncuran Antariksa NASA, Stennis, di Mississippi.

Pengetesan ini akan jadi penutup proses pengujian roket yang sudah dilakukan selama setahun untuk memvalidasi desain roket. Sementara itu, NASA tengah menghadapi tekanan atas teknologi roket dari perusahaan swasta lain.

Pengujian ini dipandang sebagai langkah penting sebelum debut peluncuran proyek pesawat tanpa awak Artemis akhir tahun. Proyek Artemis berambisi untuk kembali mendaratkan manusia di Bulan pada 2024.

Pengetesan yang dilakukan Sabtu sore itu dilakukan untuk mengecek empat mesin roket Aerojet Rocketdyne RS-25 yang akan menyala sekitar delapan menit.

Roket itu mampu menghasilkan 1,6 juta pon daya dorong dan mengkonsumsi 700.000 galon propelan pada tempat pengujuan sebagai simulasi ketika roket lepas landas.

"Ini adalah jenis tes sekali dalam satu generasi," kata Jim Maser, Wakil Presiden Senior Ruang Angkasa Aerojet Rocketdyne, kepada Reuters. "Ini akan menjadi pertama kalinya empat RS-25 menembak bersamaan."

SLS adalah roket kelas berat yang telah molor tiga tahun dari jadwal dan telah melewati anggaran awal lebih dari US$3 miliar.

Para kritikus telah lama meminta NASA untuk beralih teknologi roket dari teknologi inti yang populer di era pesawat ulang-alik ke teknologi roket baru. Sementara, teknologi roket komersial alternatif, menjanjikan biaya yang lebih murah.

Sebagai perbandingan, roket SLS NASA butuh US$1 miliar untuk satu kali peluncuran misi. Sementara menerbangkan roket kelas berat SpaceX Falcon Heavy hanya menelan biayanya hanya US$90 juta, kurang dari sepersepuluh biaya NASA. Meski demikian, daya angkut Falcon Heavy masih tak sekuat roket SLS.

Sementara roket Delta IV Heavy milik United Launch Alliance menghabiskan sekitar US$350 juta per peluncuran, sepertiga dari biaya roket NASA.

Meski demikian, kolaborasi SpaceX Starship dan United Launch Alliance Vulcan, menjanjikan daya angkut yang lebih besar dari Falcon Heavy atau Delta IV Heavy. Namun, tetap dengan biaya lebih rendah.

Sementara para pendukung SLS berpendapat, mengangkut beban yang dibutuhkan untuk misi Artemis dengan kedua roket itu bakal butuh peluncuran roket lebih dari sekali.

Misi Artemis 2024 didorong oleh Presiden AS Donald Trump. Namun, dilaporkan Presiden AS terpilih Joe Biden berniat untuk menunda proyek itu. Hal ini menimbulkan kebimbangan proyek roket SLS, SpaceX dan Blue Origin milik Jeff Bezos yang tengah mengembangkan roket berdaya angkut besar.

Sabtu, 16 Januari 2021

Cemas Pengguna Kabur, WhatsApp Tunda Kebijakan Bagi Data


Aplikasi pesan singkat WhatsApp menunda keharusan bagi penggunanya membagi data pribadi ke platform Facebook. Mulanya, tenggat itu direncanakan berlaku mulai 8 Februari.
Mengutip AFP, WhatsApp menunda karena cemas penggunanya eksodus pindah menggunakan aplikasi pesan singkat lainnya jika kebijakan itu diberlakukan.

"Kami akan memundurkan jadwal dan akan meninjau terlebih dahulu tanggapan para pengguna," tutur WhatsApp mengutip AFP, Jumat (15/1).

Belum diketahui pasti kapan kebijakan keharusan pengguna WhatsApp membagi data ke Facebook itu bakal diterapkan.

Pihak WhatsAppa hanya menyatakan bakal meminta pendapat terlebih dahulu dari berbagai kalangan secara bertahap.

"Sebelum opsi bisnis baru bisa diterapkan pada 15 May mendatang," tulis WhatsApp.

Sebelumnya, Aplikasi pesan WhatsApp menuai kritik dari sejumlah penggunanya. Hal itu terjadi setelah WhatsApp menerbitkan kebijakan privasi baru, yakni data pribadi milik penggunanya dan bisa dibagi kepada Facebook.

Kebijakan untuk berbagi data dengan Facebook rencananya mulai dilakukan pada 8 Februari 2021. Jika tak setuju dengan pembaruan itu, pengguna tak bisa lagi menggunakan layanan.

Pemberitahuan Whatsapp kali ini merupakan tindak lanjut dari perubahan kebijakan layanan pesan instan itu yang diumumkan Juli 2020.

Tak lama setelah rencana kebijakan privasi baru itu muncul, sejumlah pengguna mengajak pengguna lain untuk pindah aplikasi yang lebih aman. Misalnya, warganet mengajak pengguna WhatsApp untuk beralih ke Telegram.

Bahkan, CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk mengajak pengikutnya di Twitter untuk beralih dari WhatsApp ke aplikasi Signal.

Jumat, 15 Januari 2021

Ahli Jelaskan Garuda dan Lion Gagal Mendarat di Pontianak


Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sel awan yang sangat besar menjadi penyebab sejumlah pesawat seperti Garuda Indonesia dan Lion Air terbang gagal mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (13/1).
Menurut peneliti petir dan atmosfer BMKG Deni Septiadi, sel awan panas yang sangat besar itu memiliki radius sel mencapai 100 kilometer dan suhu puncak awan mencapai -90 derajat Celsius.

"Berdasarkan pantauan satelit IR Himawari terdapat sel awan yang sangat besar dengan radius sel mencapai 100 km dan suhu puncak awan mencapai -90 derajat Celsius," ujar Deni dalam keterangan resmi, Kamis malam (15/1).

Sebelumnya, pesawat Lion Air (Boeing 737-86N) dan Garuda (Boeing 737-8GP) tujuan Jakarta-Pontianak gagal mendarat di Bandara Supadio meski sebelumnya sempat holding beberapa saat di udara ekuator tersebut.

Pesawat Lion dengan nomor penerbangan JT 684 juga terpaksa beralih ke Batam pada pukul 14.20 WIB. Sementara itu, Garuda dengan nomor penerbangan GA 504 dialihkan ke Palembang pada pukul 15.02 WIB.

Deni menjelaskan inisiasi sel itu terbentuk sejak Selasa (12/1), pukul 23.00 WIB, atau 15 jam sebelumnya. Radius sel awan itu disebut mencapai ukuran maksimum sekitar 180 km pada pukul 10.00 WIB.

Berdasarkan analisis gradien angin permukaan, 850, 700 dan 500 mb juga menunjukkan adanya sirkulasi tertutup di sekitar Kalimantan bagian barat yang mengarah pada fenomena Borneo Vortek.

"Rata-rata kecepatan angin di sekitar sistem awan ini berkisar 20-30 knot (37-56 km/jam)," ujarnya.

Lebih lanjut, Deni menyampaikan pesawat terbang akan berhadapan dengan potensi aliran udara ke bawah secara masif dengan kecepatan aliran mencapai 100 km/jam, bahkan lebih dengan panjang area terdampak dapat mencapai 5 km yang disebut sebagai Microburst.

"Pesawat dapat terjerembap dan kehilangan daya angkat (stall) akibat fenomena ini, ditambah kemungkinan adanya angin samping (crosswind) atau low level windshear disekitar landasan," ujar Deni.

Petir jenis CG (Cloud to Ground) yang ada pada kondisi awan itu, kata dia juga perlu diwaspadai meskipun pabrikan Boeing ataupun Airbus memiliki static discharge untuk mengatasi arus berlebih petir.

"Namun demikian, satu sambaran petir dengan panas yang dapat mencapai 30.000 derajat Celsius menjadi pertimbangan untuk dihindari apabila tidak ingin celaka," ujarnya.

Selain itu, Deni menuturkan turbulensi hebat dan petir jenis IC (Intra Cloud) adalah dua fenomena yang mungkin akan dihadapi oleh pilot memaksakan pesawat masuk melewati pusat sistem awan.

Deni menambahkan pada puncak awan di ketinggian sekitar 10-14 km di atas permukaan laut, pesawat juga akan dihadapkan pada fenomena icing akibat adanya partikel solid dalam bentuk es pada puncak awan (di bawah -40 derajat Celsius).

"Dari semua uraian tersebut di atas, kebengisan cuaca mungkin tidak menjadikannya sebagai faktor primer penyebab kecelakaan pesawat. Namun sudah banyak kejadian kecelakaan pesawat yang berasosiasi dengan cuaca buruk (bad weather)," ujar Deni.